Thursday, January 27, 2011

Pelangi Dalam Mozaik

Posted by Ahmad Nalpa on Thursday, January 27, 2011

Rainbow
Dakwah ini adalah perjalanan cinta. Antara aku dan DIA. Sebagaimana halnya istilah cinta yang begitu kompleks untuk didefinisikan, begitu pula pemandangan-pemandangan cinta dalam dakwah ini kutemukan. Di sanalah cemas, harap, ikhlas, kesabaran, pengorbanan, kasih sayang, dan masih banyak lagi. Semua menyatu membentuk siluet. Siluet pelangi! Dan ketika pemandangan-pemandangan itu kubingkai dalam sebuah frame, jadilah ia mozaik cantik dalam sebuah bilik. Bilik jiwaku.

Bagi dakwah sekolah, aku belumlah jadi siapa-siapa. Masih bukan apa-apa. Bermodalkan ghiroh dan kemampuan yang tak seberapa, kuringankan langkah. Mujahadah, bismillah… Alloh punya banyak pemandangan indah di sepanjang perjalanan ini.


Di teriknya sengatan surya siang itu. Dengan tujuh buah undangan sekolah dalam dekapan.
"Acara apa, Nak?" tanya seorang Guru yang kutemui di salah satu sekolah.
"Training Jurnalistik buat pelajar, Bu." jawabku.
"Oh... ke sini naek apa, kamu udah bawa motor sekarang?"
"Belum Bu, belum bisa." jawabku malu.
"Ya ampun, naek angkot apa jalan?"
"Ya dua-duanya Bu, gak apa, udah biasa, hehe…"
"Ya Nak, mudah-mudahan berkah ya, Ibu doakan."
Cas! Berkah! Satu doa dari seorang hamba. Moga malaikat mengamininya agar terhalau semua lelah yang mengusik langkah.

Perjalanan berikutnya kulanjutkan dengan jalan kaki. Lumayan dekat, hanya tujuh menit dari sekolah sebelumnya. Memasuki gerbang sekolah itu…
"Mbaaaaaaak!!" sebuah teriakan mengagetkan. Dua siswi berseragam putih abu-abu serta merta berlari ke arahku. Cipika-cipiki.
"Mbak apa kabar? Mbak ngapain ke sini?"
"Alhamdulillah baek. Ini mau ngasih undangan ke kepsek. Kalian gimana?"
"Kangen SMP dulu mbak, BBQ sama mbak lagi boleh gak sih? Di sini hambar…"
"Hambar, ya tambah garam aja…"
"Ihh mbak…serius nih! Ya udah yuk, dianterin ke kepsek."

Cengar-cengir mereka. Akunya mesam-mesem. Alhamdulillah, meski belum menjadi siapa-siapa, ternyata ada yang melihatku sebagai "seseorang". Menjadi orang yang berarti buat mereka, itu lebih dari cukup.

Usai mengantarkan semua undangan, kampus kembali menjadi tujuan perjalananku siang itu. Dalam bus yang padat dan sesak, kulempar pandangan ke luar jendela. Kupandangi anak-anak sekolah di sepanjang jalan. Aneka macam atribut. Symbol identitas. Kasihan. Mereka tentu belum tersentuh tarbiyah. Ahh, jadi teringat masa SMA, saat seusia mereka.

Sungguh …ingin sekali jadi perantara hidayah bagi mereka. Ingin mereka merasakan yang aku rasakan. Itu alasannya. Itu alasan yang membuatku bertahan! Bertahan sebagai salah satu penopang dakwah sekolah ini. Bertahan untuk bisa jadi teladan. Dan di dalam upaya pertahanan itu aku tak bisa membagi cinta dan perhatian. Apalagi soal sanjungan dan iming-iming masa depan. Sanjungan! Kenapa manusia begitu peduli dengan istilah itu??

Pagi tadi, Mama baru saja kembali dari warung. Nampak singut seraya mengeluarkan barang-barang belanjaannya. Saat kubantu, singutnya malah kian menjadi.

"Kurangi aktivitas kau!" tegasnya.
"Lah…kok tiba-tiba ngomongin itu?" tanyaku.
"Mama itu heran ya, mau-maunya bolak-balik ke sekolah. Emang kau digaji sama sekolah??"
"Lho, kan waktu itu udah dijelasin alasannya."
"Itu, si Windi anaknya Bu Hendri, aktifnya ya di kampus, di BEM. Si Siska, anaknya Bu Ros, aktifnya di Pramuka, udah ditugasin ke mana-mana anak itu. Kayaknya udah keliling Indonesia kalo ibunya cerita. Si Andi juga, yang dulu TK-nya bareng kamu, aktifnya di BEM juga dia. Nah kauiapalah itu…TKS-lah, FKAR-lah… Gak ada keren-kerennya, gak bisa dibangga-banggain!"
"Bukan soal bangga gak bangga lho Mah…TKS sama FKAR itu hebat lho, jangan salah…"
"Tapi tetep aja orang gak tahu apa itu! Mana ngerti orang kampung sini!"
"FKAR it..."
"Ai sudahlah.. Jadi ini ya yang kau dapat dari FKAR itu, jadi pandai bicara. Udah merasa pintar?" potongnya.
"Ya Alloh, nggak gitu Mah…"
"Udah udah, bikin naik darah!" stopnya.
Beliau marah. Meninggalkan aku dengan sebaskom ikan Nibung yang masih berdarah-darah. Haaaah…

Busku berhenti di halte. Anak-anak SMA berdesakan. Di belakang sopir duduk sepasang sejoli. Bertingkah khas orang yang kasmaran. Di sisi kiri mereka duduk seorang wanita muda dengan pakaian yang tidak bisa dibilang sopan. Foundation dan bedak tebal lengkap dengan pulasan make up yang menawan. Di seragamnya, tertera jelas nama perusahaan tempatnya meraup uang. Harusnya, Mama bersyukur anaknya tidak demikian.

"…mau-maunya bolak-balik ke sekolah. Emang kau digaji sama sekolah??"
Tidak. Tapi Alloh menjamin rezekiku.
"…TKS-lah, FKAR-lah… Gak ada keren-kerennya, gak bisa dibangga-banggain!"
Tapi aku bangga berada di dalamnya.
"….orang gak tahu apa itu!"
Public Relations-nya sedang terus bekerja untuk itu.
"…Jadi ini ya yang kau dapat dari FKAR itu, jadi pandai bicara. Udah merasa pintar?"
Ya, mungkin iya. Aku memang makin pintar!

Selang setengah jam kemudian setelah turun dari bus, sebuah spanduk kegiatan BEM menarik perhatianku. Di sudut lain juga nampak spanduk-spanduk atas nama LDK dan LK-LK lainnya. Memori otakku membuka otomatis file diorama tiga tahun lalu. Dulu, waktu baru jadi mahasiswa Unila.

"Jangan cari aman sendiri di zona nyamanmu, Ukh!" kandas seorang teman, seraya beranjak meninggalkan aku dengan selembar formulir "(sensor)- yang tak kunjung kuisikan biodata diri. Datar tapi daleeemm…
Menatap punggungnya, kupanggil ia,
"Gak ada jaminan keamanan di mana pun kita. Ini murni soal pilihan!"

Setahun kemudian sejak sindiran tajam itu, salah satu dosen di jurusan memanggilku. Ssstt…orang kita juga!

"Sekarang Anda mahasiswa. Anda harus ambil peran di sini. Jangan hanya manut dengan murobi Anda. Bebaskan paradigma Anda. Kalau Anda aktif di sini, Anda berkesempatan jadi dosen. Saya tahu Anda berprestasi. Universitas bisa memberikan Anda beasiswa kalau dari sekarang Anda mulai track record keaktifan Anda sebagai mahasiswa. Kelak Anda…bla…bla…bla… Anda tetap bisa menjadi ADS tapi…bla…bla…bla…" ulasnya panjang.

Dengan perasaan nano-nano yang gak manis, segera kutinggalkan ia tak lama setelah berakhir kalimatnya. Kenapa harus tarik-menarik kalau bisa bersinergi?? Dengan segala hormat, maaf… saya sudah lebih dulu bernegosiasi dengan Alloh!

"Tiiiiiiinnnnnnnnn!!!" klakson mobil dari sisi kiri bundaran Unila membuyarkan lamunanku.

Masih beristighfar karena kaget, tepat sejurus kemudian handphone berbunyi. Message tone.

Ana sangat mencintai anti. Anti bidadari syurga ana…
"afwan…

Innalillahi…apa lagi ini. What a shame!! Hari gini masih bervirus hati??

Kumasuki pintu jurusan. Kususuri koridornya sambil terus berkata-kata. Ya Alloh, Robbi…sungguh tak berkenan menduakan cinta yang KAU beri. Sungguh-sungguh tak berkenan merusak kebun iman yang bunganya tengah bermekaran! Kumohon…kumohon jadikan semuanya berlalu, tetap hanya KAU dan aku…di dakwah sekolah yang telah jadi pilihan hidupku.

Setibanya di kelas, kutengok mozaik cantik yang hari ini kubingkai. Kutambahkan satu warna lagi. Dengan berbagai kisahnya, dakwah sekolah telah melukiskan warna-warni pelanginya. Di sini, di bilik jiwa.

"Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar
Sebagaimana telah diperintahkan kepadamu
Dan orang yang bertobat bersamamu
Dan janganlah kamu melampaui batas
Sungguh Dia Maha melihat
Apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. Hud :112)

SKC, bilik tengah, Januari 22nd, 2011

No comments:

Post a Comment